Selasa, 22 Juni 2010

penetas telur

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsumsi ayam yang semakin meningkat harus diiringi dengan ketersediaan ayam siap konsumsi dalam jumlah yang banyak juga, hal ini di atasi dengan pemeliharaan ayam yang tepat mulai dari anak ayam hingga ayam siap di konsumsi. Untuk mendapatkan anak ayam dalam jumlah banyak saat yang bersamaan akan menjadi masalah kalau hanya didapatkan secara alami, dimana satu ekor induk ayam hanya bisa mengeram maksimal 10 butir telor, kalau kita inginkan dalam jumlah yang banyak dan saat bersamaan, akan menjadi kendala. Dengan masa mengeram yang tidak bisa ditentukan secara bersamaan sekian banyak induk ayam, sehingga kalau didaerah pedesaan hal ini akan menimbulkan masalah kalau ada penduduk yang ingin beternak ayam sebagai pekerjaan sambilan

Untuk meningkatkan produksi ternak maka anak ayam yang harus disediakan harus cukup banyak, juga untuk menghasilkan anak ayam yang penetasannya secara lama dimana memakai induk ayam dirasa kurang efektif karena satu induk ayam hanya bisa mengerami maksimal 10 butir telur, untuk mengatasi masalah tersebut maka dibuatlah prototype mesin penetasan sebagai ganti induk ayam. Mesin penetasan yang baik harus memiliki daya tetas yang tinggi diatas 80%. Dengan mempelajari cara-cara penetasan telur dengan memperhatikan pengaturan suhu ruang penetasan, dengan lama waktu pemanasan yang bisa diatur dan bisa bekerja menyerupai dengan kelakukan seekor induk ayam, maka ada ide pengembangan penetasan telor secara buatan (Jasa, 2006).

Menurut Sudiro ( 1991 ), Penetasan buatan adalah pelaksanaan penetasan yang dilakukan dengan bantuan mesin penetas, yang mampu mengerami 50 hingga 50000 butir telur sekaligus atau lebih dalam waktu yang sama. Namun menurut Sudiro, telur-telur dari jenis ayam tertentu yang ditetaskan dengan bantuan mesin tetas hasilnya kurang baik.

Menurut Jasa (2006), ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam proses penetasan telur dengan menggunakan mesin incubator atau alat penetas telur, yaitu:

a. Suhu Udara di Dalam Penetasan

Embrio akan berkembang bila suhu udara di sekitar telur minimal 70oF (21,11oC) namun perkembangan ini sangat lambat.

b. Kelembaban relatif di dalam penetasan

Kelembaban sangat penting untuk menjaga kandungan air di dalam telur, yaitu untuk mencegah air di dalam telur jangan terlalu banyak menguap atau keluar dari telur melalui pori-pori telur.

c. Kesegaran Udara

Dalam perkembangan embrio akan banyak memerlukan oksigen (O2) dan memerlukan gas CO2. Konsentrasi ke-2 gas ini akan sangat mempengaruhi perkembangan embrio ataupun daya tetas.

Selain ketiga hal di atas ada 2 hal penting lagi yang harus ditambahkan agar proses penetasan telur di dalam incubator dapat berjalan dengan baik, yaitu Pemutaran telur dan kebersihan (Anonim, 2008).

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ayam petelur

Ayam ini tubuhnya relative lebih kecil. Produksi telurnya antara 250 sampai 280 butir per tahun. Telur pertama dihasilkan pada saat berumur 5 bulan dan akan terus menghasilkan telur sampai umurnya mencapai 10-12 tahun. Umumnya, produksi telur yang terbaik akan diperoleh pada tahun pertama ayam mulai bertelur. Produksi telur pada tahun-tahun berikutnya cenderung akan terus menurun. Ada dua pilihan untuk ayam petelur ini yang dibedakan dari warna telurnya, yaitu:

· Telur berwarna putih yaitu Ayam petelur dengan telur berwarna putih, untuk telur berwarna putih ini biasanya ayam yang di kembang biakan adalah dari ras Leghorn.

· Telur berwarna coklat yaitu ayam petelur dengan telur berwarna coklat yang terbaik adalah dari Jenis ras Production Red (Solusindo, 2007).

B. Mesin penetas telur

Untuk meningkatkan produksi ternak maka anak ayam yang harus disediakan harus cukup banyak, juga untuk menghasilkan anak ayam yang penetasannya secara lama dimana memakai induk ayam dirasa kurang efektif karena satu induk ayam hanya bisa mengerami maksimal 10 butir telur, untuk mengatasi masalah tersebut maka dibuatlah prototype mesin penetasan sebagai ganti induk ayam.(Jasa, 2006).

Salah satu mesin penetas telur yang ada adalah Mesin penetas telur sistem rak putar adalah generasi terbaru alat penetas telur kapasitas kecil yang bertujuan untuk mengoptimalkan efesiensi penetasan dengan teknik yang jauh lebih praktis dan mudah. Beberapa keunggulan mesin ini antara lain:

· Menggunakan sistem rak putar. pemutaran semua telur hanya dengan sekali operasi, tanpa membalik dengan tangan satu per satu.

· Rak telur desain beru terbuat dari bahan full alumunium, dengan ram profil U sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat serta lebih higienis.

· Efesiensi penetasan tinggi, 80-90 %, dengan potensi mencapai 100%.

· Pemanasan darurat menggunakan plat pemanas, cukup memakai lampu minyak atau lilin.

· Kontrol panas otomatis dengan thermostat yang dapat disetel dari luar mesin, dengan fluiktuasi suhu hanya 1oF. sangat akurat dang praktis (Solusindo, 2007)

Mesin yang diharapkan dapat menggantikan peran induk ayam untuk menetaskan telur agar dapat menetas sesuai dengan waktunya dan hasil yang didapatkan dari proses penetasan tersebut lebih banyak dari pengeraman yang dilakukan oleh induk ayam.

Menurut Sudiro ( 1991 ), Pada mesin penetas telur, jenis pengoperasiannya mungkin berbeda-beda oleh karena itu sebelum mesin penetas tersebut di gunakan harus mempelajari petunjuk terlebih dahulu, dan beberapa hal yang harus di perhatikan yaitu:

1. Setiap mesin akan digunakan langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan kotak, rak-rak, dan seluruh peralatan yang berkaitan.

2. Kotak dan seluruh peralatan harus difumigasi.

3. Hidupkan sakelar dan atur temperature yang sesuai dengan jenis telur.

4. Perhatikan tingkat kelembaban pada ruang penetasan.

5. Atur telur di dalam rak.

6. Periksa mesin penetas telur setiap hari untuk memastikan suhu dan kelembabannya.

7. Lakukan pemeriksaan yang sama hingga hari ke 21 hingga telur menetas.

C. Tahapan penetasan telur

Pada setiap tahap perkembangan embrio di tandai dengan ciri-ciri yang khas. Pada tahap ahir perkembangan ciri-ciri ini mudah dapat dilihat tanpa bantuan alat. Namun pada tahap awal perkembangan embrio yang jelas hanya dapat dilihatr dengan bantuan alat khusus. Seseorang yang melakukan penetasan perlu mengetahui cirri-ciri tersebut (Anonim, 2004)

Beberapa hal yang mesti di perhatikan dalam proses penetasan telur agar telur dapat menetas dengan baik, mulai dari kebersihan sampai suhu ruangan. Berikut ini merupakan tahapan-tahapan dalam proses penetasan telur yang meliputi:

1. Mesin harus di bersihkan terlebih dahulu, yaitu pencucian dan pemberian desinfektan.

2. Masukan telur yang telah di bersihkan.

3. Hidupkan mesin dan proses pengeraman siap dimulai.

4. Atur suhu pada incubator agar suhu dan kelembaban terus stabil.

5. Lakukan pemeriksaan suhu dan kelembaban setiap hari.

Beberapa hal di atas merupakan urutan secara singkat tahapan penetasan telur hingga menetas (Anonim, 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar